UINSA Gelar Forum Dekan Ushuluddin se-Indonesia

Bertempat di Hotel Premier Inn, sebanyak 43 Dekan dari 36 lembaga seluruh Indonesia bertemu dalam sebuah forum membahas isu ke-Ushuluddin-an dan ke-Indonesia-an. Forum yang diselenggarakan setiap tahun dan telah memasuki tahun ke-4 ini sebelumnya dihelat di Lampung, Banjarmasin, dan Padang sejak tahun 2013. Forum Dekan ini merupakan media diskusi antar pengelola pendidikan tinggi ilmu-ilmu ke-Ushuluddin-an yang digagas untuk pengembangan lembaga, peningkatan peran, dan transformasi keilmuan terhadap bangsa.

Animo pegiat Pendidikan Tinggi Keislaman Indonesia terhadap acara-acara yang diselenggarakan UIN Sunan Ampel Surabaya semakin besar menyusul kesuksesan beberapa agenda besar yang telah digelar. Salah satunya, konferensi internasional bertajuk ICON-UCE 2016 yang digelar awal Agustus lalu.

Acara yang berlangsung Jumat-Minggu, 12-14 Agustus 2016 ini berlangsung guyub dan santi, meski secara material yang dibicarakan cukup berat. Ketua Panitia, Muktafi Sahal, M.Ag mengaku, sebuah kebutuhan bagi seluruh peserta agar senantiasa kreatif mengembangkan cara-cara ‘bahagia’ untuk membangun nomenklatur ilmu langka peminat seperti Fakultas Ushuluddin. Sebagaimana semboyan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi ‘Fakultas Damai dan Bahagia’. ”Hanya dengan cara bahagia pula FUF UIN Sunan Ampel Surabaya berhasil mengantarkan semua Jurnalnya terakreditasi nasional,” Ketua Panitia yang juga Wakil Dekan I tersebut menambahkan.

Pada bagian lain, dalam welcoming speech-nya, Dr. Muhid, Dekan FUF UIN Sunan Ampel Surabaya menyatakan, bahwa tantangan paling krusial yang masih dihadapi para pengelola Fakultas Ushuluddin adalah langkanya peminat. Terlebih ketika lembaga telah beralih status menjadi universitas seprti halnya UIN Sunan Ampel Surabaya. Di pasaran, kehendak pengguna jasa pendidikan cenderung memilih Fakultas keilmuan ‘praktis’ dibanding keilmuan ‘teoritis’. Sehingga kiat dan strategi perlu terus dikembangkan, kecerdasan untuk menempatkan diri di hadapan masyarakat pun mutlak dibutuhkan. Bagi FUF UIN Sunan Ampel Surabaya sendiri, komunitas pesantren di Jawa Timur yang berjumlah lebih dari 3000-an lembaga, masih belum optimal sebagai penyuplai calon mahasiswa. Ketidakoptimalan itu terlihat dari rerata peminat calon maba yang hanya berkisar 500-an orang pertahun.

Lebih lanjut dijelaskan, tantangan tersebut telah menjadi isu nasional sejak 1 dekade terakhir. Ilmu-ilmu keislaman justru menjadi pilihan kedua dan ketiga di lembaga-lembaga yang dibangun untuk mengembangkan ilmu-ilmu keislaman. “Karenanya, Forum Dekan Fakultas Ushuluddin dan forum-forum lain yang sejenis harus menjadi alat efektif berjejaring untuk menciptakan inovasi keilmuan dan kreasi pengembangan kelembagaan Ilmu Ushuluddin di masa mendatang,” ujar  Dr. Muhid. FUF UINSA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *