WEBINAR INTERNASIONAL MODERASI BERAGAMA: REALISASI KERJASAMA AKADEMIK ANTARA UKM, UM DAN FUF UINSA

Rabu (16/9) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya menyelenggarakan Webinar Internasional. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari kerjasama akademik antarperguruan tinggi secara internasional: Antara Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan dua perguruan tinggi Malaysia; Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (FPI UKM) dan Akademik Pengajian Islam Universiti Malaya (API-UM). Kerjasama akademik dengan FPI UKM telah dirintis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya sejak 2015 lalu melalui MoU antara UINSA dengan UKM. Sedangkan kerjasama akademik dengan API UM baru dirintis pada tahun 2018, dan kedepan diharapakan ada MoU antara UINSA dengan UM.

Tema “Moderasi Beragama: Pengalaman Indonesia dan Malaysia” diangkat menjadi tajuk webinar Internasional kali ini. Melalui webinar ini diharapakan terjadi tukar pandang dan pengalaman implementasi moderasi beragama di Indonesia dan Malaysia. Sebagaimana diterangan Dekan FUF, Dr. Kunawi, M.Ag dalam sambutan pembuka, “melalui webinar ini diharapkan, kita yang berada di Indonesia bisa mengambil pelajaran moderasi beragama di Malaysia, sementara peserta dari Malaysia bisa mengambil pelajaran dari Indonesia. Mengingat webinar ini juga diikuti oleh para civitas akademika di lingkungan UKM dan UM, Malaysia.”

Dalam webinar Internasional yang sukses dilaksanakan pada hari Rabu, 16 September 2020 secara daring via Zoom Meeting. Pada webinar kali ini, panitia menghadirkan empat pakar dalam bidang moderasi beragama dari Malaysia dan Indonesia, yaitu: Prof. Masdar Hilmy, MA. Ph.D. (Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya), Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dan Mantan Sekjen Kemenag RI), Prof. Madya Dr. Jaffary Awang (Pengerusi Pusat Kajian Ushuluddin dan Falsafah FPI Universiti Kebangsaan Malaysia), dan Prof. Dr. Mohd. Roslan Bin Mohd. Nor (Ketua Jabatan Sejarah dan Tamadun Islam, API Universiti Malaya). Sebagai moderator webinar internasional ini adalah Dr. Akhmad Siddiq, MA. (Dosen Fakutas Ushuluddin dan Filsafat UINSA).

Webinar Internasional kali ini berlangsung mulai pukul 08.30, diawali dengan penayangan video profil UINSA. Setelah itu, sesi berikutnya dilanjutkan dengan acara seremonial yang dibawakan oleh Lia Hilyatul Masyrifah (Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA). Sebagai acara pembukaan, ditayangkan video lagu Indonesia Raya dan diteruskan video Hymne UINSA. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dan sekaligus pembukaan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA, Bapak Dr. Kunawi Basyir, M.Ag.

Dalam presentasinya, Prof. Masdar Hilmy, MA. Ph.D. yang mendapatkan kesempatan presentasi pertama, menyampaikan tentang definisi, landasan konseptual dan teologis, serta peluang dan tantangan moderasi beragama di Indonesia. Menurutnya, “secara empiris, Indonesia telah dikaruniai nilai-nilai moderasi yang sejalan dengan ajaran Islam yang berupa toleransi, tenggang rasa, tolong menolong, dan persaudaraan.” Tegas Prof. Masdar.

Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., dalam presentasinya menyampaikan bahwa moderasi agama berpijak pada prinsip saling menghargai dan menghormati keyakinan orang lain. Hal ini juga dimaksudkan untuk menangkal radikalisme agama yang tumbuh di dalam masyarakat. Prof. Nur Syam juga memaparkan berbagai survei yang memperlihatkan bahwa kita masih bermasalah dengan ekstremisme pemikiran dan tindakan.

Sedangkan Prof. Madya Dr. Jaffary Awang menyampaikan bahwa moderasi beragama tercerminkan pada perlembagaan Malaysia yaitu Undang-undang utama persekutuan. Dalam perlembagaan Malaysia, ada hak keistimewaan Melayu, termasuk agama Islam adalah agama resmi Persekutuan Malaysia dan Bahasa Melayu sebagai Bahasa kebangsaan Malaysia. Menurut Prof. Awang, “moderasi beragama di Malaysia digerakkan berdasar tiga pendekatan, yaitu Perlembagaan Malaysia, aturan dan tindakan Malasyia dan berdasarkan adat dan budaya.”

Narasumber yang mendapatkan kesempatan presentasi penutup, yaitu Prof. Dr. Mohd. Roslan Bin Mohd. Nor. Dalam paparan yang beliau sampaikan secara komprehensif, ada banyak informasi tentang dinamika moderasi beragama di Malaysia. Menurut Prof. Roslan, implementasi moderasi beragama di Malaysia tidak sepenuhnya berjalan mulus, ada beberapa tantangan yang selama ini dihadapai. Hal itu ditandai dengan sejumlah peristiwa, diantaranya kerusuhan rasis pada tahun 1969, pengenalan rukun Negara pada tahun 1970, kerusuhan kuil Hindu pada tahun 2018 dan problem internal umat Islam sendiri. Sebagai kesimpulan, menurut beliau, “moderasi beragama merupakan kunci keharmonisan dalam masyarakat yang harus selalu diikhtiarkan.” 

Setelah kegiatan webinar internasional sukses digelar, Saifullah Yazid, Lc., M.A. selaku pelaksana tugas kepanitian menyatakan, “harapan kami mewakili panitia, agar webinar internasional bertajuk “Moderasi Beragama: Pengalaman Indonesia dan Malaysia” dapat membuka suatu wawasan baru tentang moderasi beragama antara Indonesia dan Malaysia. Semoga kedepan, ada upaya-upaya yang lebih serius antar pihak Indonesia dan Malaysia untuk bekerjasama lebih intens dalam bentuk riset kolaboratif atau kegiatan-kegiatan lain yang lebih berdampak pada pengembangan moderasi beragama di kedua negara.” Terang Yazid yang merasa senang dan bangga kegiatan webinar internasional ini berjalan dengan sukses. (/FUF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *