WEBINAR PRODI SAA: “MERAWAT AGAMA DI TENGAH KEPUNGAN SAINS DAN MODERNITAS”

Selasa (18/08) Program Studi Agama-Agama sukses menggelar Webinar bertajuk “Merawat Agama di Tengah Kepungan Sains dan Modernitas.”Menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Achmad Jainuri, MA, Ph.D (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya), dan Ulil Abshar Abdalla (Intelektual NU) yang diundang panitia hingga akhir acara.

Webinar ini berlangsung hingga 3 jam (09.00-12.00 WIB) tidak menyurut minat peserta hingga akhir acara tercatar sekitar 90 peserta yang bergabung. Kegiatan Webinar ini dipandu oleh Dr. Haqqul Yaqin, M.Ag, Dosen Prodi Studi Agama-Agama. Sambutan awal/pembuka diberikan oleh Dekan FUF, yakni Dr.H. Kunawi,M.Ag dengan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih tiada terhingga kepada narasumber, yang telah bersedia berbagi ilmu dalam diskusi ilmiah ini. Menurut beliau, “tema webinar ini sangat relevan dengan kodisi saat ini/globalisasi dalam merawat isu agama di tengah sains dan modernitas, sekaligus menjawab tantangan di era post-truth.”

Mengawali acara, Prof. Ach. Jainuri, MA, Ph.D mengomentari tema webinar, menurut beliau tema tersebut seolah menempatkan agama pada posisi tidak berkutik menghadapi dua aspek penting yang menandai era kontemporer, yaitu sains dan modernitas. Beliau kemudian menyambungnya dengan pertanyaan, “apakah memang agama tidak bisa bertemu dengan ilmu pengetahuan dan modernisasi?”

“Dari perspektif Islam, jelas tidak. Ada dasar normatif-historis, seakan hanya Islam yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan modernisasi, agama lain bertentangan, minimal, kita, memang tidak pernah mendengar riwayat keterkaitannya. Kita lihat fakta sejarah dulu dan sekarang: Dulu, Islam telah muncul sebagai kekuatan peradaban dunia yang berintikan ilmu pengetahuan. Sekarang, Kristen/Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu pun telah menguasai dunia ilmu pengetahuan. Umat Kristiani jaya saat kolonialisme dan era industri, dan hingga sekarang. Sementara Hindu, Budha, Konghucu diwakili oleh India, Jepang, Cina, Korea dan sekitarnya.” Terang Prof. Jainuri dalam pemaparan beliau.

Prof. Jainuri juga menambahkan, “di dalam penelitian Kishore Mahbubani berjudul, Can Asians Think? (1998). Jawabannya: No! karena sejak era kolonialisme Eropa dan terutama Revolusi Industri, negara-negara di Asia mengakui ketertinggalan mereka dengan Barat dalam kemajuan dan kemakmuran, dan mereka ini masih merasa memiliki mental terjajah. Tapi juga Yes! kalau melihat pertumbuhan ekonomi di Timur Jauh yang membuktikan bahwa orang-orang Asia itu cerdik dan pekerja keras. Dalam hal ini, kemajuan ekonomi yang dicapai Asia sekarang sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kemajuan berpikir. Tesis ini juga terdapat dalam The New Asian Hemesphere: The Irresistable Shift of Power to the East (2009) yang menyebut tiga negara, yaitu: Jepang, Cina, dan India.”

Prof. Jaenuri juga menyebutkan, “bukti kekuatan Asia dalam bidang pengetahuan terdapat dalam penelitian Guelph University, Ontario, Canada pada awal 1990-an. Di sana disebutkan, tingkat IQ bangsa-bangsa di dunia: Asia, Kulit putih, dan kulit hitam. Dan juara lomba sains di North America, pemenangnya juste seringkali dari keturunan Asia.” Mengakhiri ulasannya, Prof. Jainuri memberikan penekanan kepada peserta webinar, bahwa penduduk Asia, utamanya Indonesia dengan penduduk mayoritas (Islam) mempunyai potensi dan berpeluang menjadi garda terdepan dalam membangun peradaban dengan menempatkan Agama dan sains pada poros kemoderenan yang berimbang.

Gus Ulil Abshar Abdalla yang mendapatkan kesempatan berikutnya, mengawali paparannya dengan sebuah anekdot yang terjadi pada tahun 90an. Pada saat itu Nurcholish Madjid alias Cak Nur menyampaikan sebuah pidato kebudayaan yang amat penting di TIM (Taman Ismail Marzuki). Cak Nur berbicara panjang lebar tentang fenomena fundamentalisme agama, serta kekerasan yang dilakukan atas nama Tuhan. Ia kemudian merumuskan gagasan tentang Islam yang ḥanīf, samḥah, toleran, dengan struktur argumen yang canggih, memukau, dan ditulis dalam bahasa yang elegan. Kemampuan orasi dan retorik Cak Nur, tanpa bisa dibantah lagi, sangat mengesankan. Kekayaan literaturnya dari pelbagai bahasa (Arab, Inggris, Persia, Perancis), membuat ceramahnya begitu memikat, terutama bagi kalangan kelas menengah Jakarta. 

Pada pidatonya itu, lanjut Gus Ulil, Islam disuguhkan oleh Cak Nur dalam bungkus yang “ngintelek”, dengan bahasa kelas menengah kota, dengan cara yang sesuai dengan tuntutan kaum terdidik yang menghendaki suatu konstruksi agama yang rasional. 

Gus Ulil kemudian berandai-andai, “jika malam itu Richard Dawkins datang, mungkin ia tak akan punya kesimpulan bahwa beragama identik dengan “gagal dewasa.” Mungkin ia juga tak akan menulis buku Outgrowing God. Mungkin. Who knows?” Tukas Gus Ulil sambil senyum.

Oleh karenanya, menurut Gus Ulil, “kita ini harus menghadirkan Islam dalam dunia modern dengan kemasan yang “ngintelek”. Tingkat pendidikan publik meningkat terus, sementara sumber-sumber bacaan yang mereka “kunyah” kian beragam. Teknologi digital telah menyebabkan lahirnya fenomena “pluralitas bacaan yang ekstrem”. Kita tak bisa lagi menyampaikan ajaran Islam dengan “bahasa lama. Para sarjana klasik Islam seperi al-Ghazali, Ibn Rusyd, Fakhruddin al-Razi, al-Taftazani, Ibn Arabi, al-Thusi, Suhrawardi, Mulla Sadra, dll., di mata saya, adalah “the giants of intellect,” raksasa-raksasa pemikiran yang levelnya tak kalah dari para filsuf Eropa modern: Bertrand Russell, Alfred N. Whitehead, Louis Althusser, Jacques Derrida, Michel Foucault, Theodor W. Adorno, Jürgen Habermas, dll.”

Pada sesi akhir webinar, dalam pernyataan penutupGus Ulil meyakinkan, “Islam hadir dalam sejarah bukan saja sebagai agama, tetapi juga sebagai peradaban ilmu. Dan peradaban inilah yang mesti kita bangkitkan lagi sekarang: ḥaḍārat al-‘ilm. Hanya satu saja yang kita butuhkan: kurangi rasa inferioritas di hadapan kehebatan intelektual Barat. Pemikir Muslim harus membangun kepercayaan diri kembali bahwa peradaban ilmu yang diwariskan raksasa-raksasa seperti al-Ghazali itu bisa diteruskan dan dikembangkan lagi.” Dan inilah, menurut Gus Ulil, jawaban Islam untuk kemelut kultural yang terjadi di era “post-truth” sekarang. (/prodi saa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *