WEBINAR PRODI IAT: TAFSIR MAQASID DAN MODERASI BERAGAMA

Masa pandemi Covid 19 tidak menghalangi Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya untuk terus mengembangkan diri di bidang keilmuan al-Qur’an dan Tafsir. Bukan sekedar ilmu untuk ilmu, tapi pengembangan ilmu untuk mewujudkan kemaslahatan umat.

Pada tanggal 13 Agustus 2020, melalui aplikasi Zoom, Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir menggelar webinar dan bedah buku bertajuk “Tafsir Maqasid dan Moderasi Beragama”. Tiga narasumber dihadirkan dalam acara tersebut, yaitu 1. Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag; 2. Dr. Afifuddin Dimyathi, MA; dan 3. Dr. Abdul Kholid, M.Ag. Lebih dari 180 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia turut mengikuti webinar yang berlangsung selama lebih dari 3 jam itu; dibuka jam 08.45 oleh moderator Dr. Khoirul Umami, M.Ag, dan diakhiri tepat pada jam 12.00 WIB.

Dalam sambutannya sebelum narasumber menyampaikan materi, Dekan Fakultas Ushuluddin Surabaya Bapak Dr. Kunawi, M.Ag menyampaikan tentang pentingnya mengaitkan kajian-kajian al-Qur’an dengan berbagai problem keummatan dan kebangsaan, sehingga beliau amat mengapresiasi tema webinar yang telah digagas oleh Prodi IAT. Beliau berharap agar webinar tersebut bisa membuka cakrawala keilmuan al-Qur’an yang luas dan menghasilkan pokok-pokok pikiran yang implementatif, yang bisa menawarkan suatu solusi bagi problem keumatan dan kebangsaan, khususnya yang terkait dengan moderasi beragama.

Adapun buku yang dibedah dalam webinar ini adalah buku karya narasumber utama yaitu Prof. Abdul Mustaqim, M.Ag yang berjudul al-Tafsīr al-Maqāṣidī al-Qaḍāyā al-Mu’āṣirah fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa al-Sunnah al-Nabawīyah. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa dalam diskursus tafsir, terma tafsir maqasid relatif baru, meski terma maqasid shari’ah sudah dikenal lama. Ia merupakan salah satu pendekatan dalam penafsiran al-Qur’an yang menekankan pada upaya penggalian dimensi maqāṣidīyah, baik yang bersifat fundamental maupun yang partikular.

Sambung Prof Mustaqim, teori ini menjangkarkan diri pada maqasid al-Qur’an dan maqasid shari’ah yang tidak lain bertujuan untuk merealisasikan kemaslahatan dan menolak kerusakan. Tafsir maqasid diharapkan bisa menjadi alternatif bagi suatu sudut pandang baru penafsiran yang moderat. Namun, pernyataan ini mendapatkan kritik dari narasumber kedua, Dr. Afifuddin Dimyathi, M.Ag, yang menyatakan bahwa tafsir maqasid masih layak disebut sebagai model, corak atau laun tafsir, belum termasuk pendekatan tafsir; apalagi dalam buku Prof. Mustaqim tersebut masih belum dijumpai konstruksi ontologis dan epistemologis tafsir maqasid. Narasumber ketiga, yakni Dr. Abdul Kholid, M.Ag yang turut membedah juga mengometari serupa, bahwa untuk menjadi sebuah pendekatan tersendiri, tafsir maqasid masih membutuhkan pengembangan dalam struktur teorinya yang lebih mapan.

Pada sesi akhir webinar tersebut, Prof. Abdul Mustaqim, M.Ag mengakui bahwa tafsir maqasid memang masih terus beliau kembangkan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa usaha beliau mengenalkan tafsir maqasid merupakan bentuk ikhtiar dalam memoderasi teks, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Menurut hemat beliau, seorang pengkaji wajib tetap menghargai teks (iḥtirām al-nuṣūṣ), namun tidak terjebak kepada penyembahan teks (‘ibādah al-nuṣūṣ), dengan tujuan agar maksud fundamental di balik teks agar dapat dipahami secara sahih (fahm al-maqāṣid min ma warā’a al-nuṣūṣ). (/prodi IAT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *