PRODI TP SUKSES MENGGELAR WEBINAR “TASAWUF DAN TAREKAT NUSANTARA”

Kamis (10/9) Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi sukes menggelar webinar bertajuk: “Tasawuf dan Tarekat Nusantara.” Kedua narasumber, yakni Prof. Oman Faturahman (Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Prof. Abdul Kadir Riyadi (Guru Besar Tasawuf UIN Sunan Ampel Surabaya) yang diundang panitia dapat bergabung hingga akhir acara. Sebelumnya, sempat beredar informasi kalau Prof. Oman harus mengikuti rapat di Kementerian Agama di waktu yang berbarengan dengan jadwal webinar yang telah ditentukan. Untungnya, Dr. Ghozi, Lc.,M.Fil.I (Ketua Prodi Tasawuf dan Psikoterapi) dan panitia sigap, sehingga webinar dilaksanakan lebih awal dari jadwal, menyesuaikan dengan agenda Prof. Oman.

Webinar yang dilaksanakan lebih awal tidak menyurutkan minat peserta bergabung dalam kegiatan tersebut, hingga akhir acara tercata ada 164 peserta yang bergabung. Kegiataan webinar ini dipandu oleh Drs. Hodri Arif, M.Ag. dosen Prodi Tasawuf dan Psikoterapi. Dalam sambutan pembuka, Dekan FUF, Dr. Kunawi, M.Ag., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada narasumber yang telah bersedia berbagi ilmu dalam diskusi ilmiah ini. Menurut beliau, “tema webinar kali ini sangat relevan di tengah pandemi seperti sekarang karena berbicara tentang kontekstualisasi tasawuf. Saya berharap kedua narasumber nanti mampu menghadirkan suatu diskursus tasawuf yang dapat menjawab kebutuhan dunia kontemporer,” terang Dr. Kunawi.

Mendapatkan giliran pertama, Prof. Abdul Kadir Riyadi, P.hD, Guru Besar UINSA yang pernah menjadi menimbah langsung ilmu dari Hasan Hanafi (Penulis Buku al-Turats wa al-Tajdid), menyajikan suatu telaah tentang tasawuf secara filosofis dengan fokus pada tokoh Ahmad Amin (1886-1954). Membuka diskusi, Prof. Kadir mengajukan sebuah fakta historis, bahwa ketika awal abad 20, tasawuf mendapat kritik pedas dari tokoh-tokoh reformis seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, karena tidak mampu menjawab tantangan modernitas dan memberikan solusi terhadap persoalan umat. 

Di antara alasan dari krisis yang terjadi pada tasawuf menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip Prof. Kadir, “adalah ketika akal para sufi tidak lagi mampu membedakan yang benar dan yang salah sehingga mereka terjerumus ke dalam khayalan dan mitos. Sifat mereka adalah mencintai kesenangan sehingga mereka memasukkan musik, nyanyian dan tarian ke dalam tradisi mereka. Mereka tidak lagi mampu memahami hukum sebab dan akibat sehingga mereka lebih mengandalkan konsep barokah dan menggantungkan kebutuhan mereka kepada karomah para wali. Karena itu, negeri-negeri Islam dipenuhi oleh para pemuka tarekat dan syekh sufi serta mereka yang mengaku sebagai wali.” Pungkas Prof. Kadir.

Selain itu, tasawuf sendiri yang pada esensinya mengajak manusia kepada kebaikan lewat moralitas dan kezuhudan. Namun tidak semua orang yang menempuh jalan ini memiliki latar belakang yang positif. Ahmad Amin menjelaskan bahwa Tasawuf seringkali dijadikan tempat pelarian bagi mereka yang putus asa dan kehilangan harapan hidup. “Sehingga masuknya kelompok pelarian ini membuat Tasawuf menjadi “rumah rehabilitasi”. Dampak negatifnya, Tasawuf menjadi penampungan besar bagi mereka yang berbudaya rendah,” terang Prof.Kadir menyimpulkan.

Dalam menjawab krisis dan tantangan tasawuf dan tarekat tersebut, Prof. Abdul Kadir menawarkan pemikiran sufistik al-Ghazali, sebagai jawaban atas krisis tasawuf pada tataran epistemologis, yaitu tasawuf harus dikembalikan kepada khittahnya sebagai “gerakan moral”. Sementara untuk menjawab atas krisis Tasawuf pada tataran praksis, maka perlu mengulik pandangan Ibn Khaldun, bahwa agama diturunkan bukan untuk mengejar kekeramatan melainkan untuk mewujudkan kemaslahatan. 

Jadi agar kontekstual, sambung Prof, Kadir, “tasawuf harus dikosongkan dari unsur-unsur filosofisnya dan dikembalikan kepada habitatnya, seperti yang dilakukan al-Ghazali.” Sementara pada tataran praktis, lanjut beliau, “tasawuf harus diposisikan sebagai instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan bukan kekeramatan. “Karena itu wacana sufistik Ahmad Amin ini tidak lain adalah sintesa al-Ghazali dan Ibn Khaldun.” Prof. Kadir mengakhiri pemaparannya.

Sedangkan Prof. Oman yang mendapat giliran kedua menyampaikan, “ajaran tasawuf telah menginfiltrasi dalam bidang politik, terutama dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Hal ini dapat ditemukan pada penggunaan gelar khalifatullah. Gelar Khalifatullah merupakan kontekstualisasi dari ajaran wahdatul wujud . Bahwa seharusnya hamba itu harus menyatu dengan Tuhannya. Di Jawa hal ini lebih dikenal dengan manunggaling kawulo gusti. Dalam konteks politik, seorang raja di Jawa harus menyatu dengan rakyatnya. Sebagaimana seorang hamba menyatu dengan Tuhannya.

Dr. Ghozi selaku Ketua Panitia dan Ketua Prodi TP secara terpisah menyampaikan, “webinar bertajuk ‘Tasawuf dan Tarekat Nusantara: Kontekstualisasi Pemikiran, Ajaran dan Gerakan’ ini merupaan realisasi dari program di Prodi untuk meningkatkan wawasan keilmuan dan kompetensi akademik dosen dan mahasiswa di lingkungan FUF, khususnya Prodi.” (/TP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *