Jangan Berputus Asa terhadap Rahmat Allah

This image has an empty alt attribute; its file name is iffah-240x300.jpg
Oleh: Dr. Iffah Muzammil, M.Ag

Kemunculan covid-19, membuat dunia kalang kabut. Hanya 6 bulan sejak kemunculan pertamanya di Wuhan, Tiongkok, kemudian ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO 11 Maret lalu, virus ini telah menyebar ke 214 negara dengan jumlah total korban di seluruh dunia menurut laman kemkes.go.id hingga 13 Mei 2020, mencapai 4 juta lebih. Amerika Serikat yang ‘dicurigai’ beberapa kalangan sebagai penyebar virus malah tercatat sebagai negara dengan korban terbanyak melampaui negeri asalnya, China (wikipedia)

Dengan jumlah korban dan tingkat penularan super cepat, wajar jika situasi ini melahirkan kepanikan dan ketakutan luar biasa di tengah masyarakat. Apalagi korban tidak pandang latar belakang dan status. Mulai orang biasa, artis, atlit,  hingga pejabat tinggi sekelas perdana menteri, bahkan bangsawan sekalipun.  Pangeran Albert dari Monako,  dan Pangeran Charles dari Inggris adalah di antara bangsawan yang tak luput dari keganasan virus ini. Puteri Teresa dari kerajaan Spanyol menjadi korban pertama dari keluarga kerajaan yang meninggal akibat covid-19. Sungguh menjadi mimpi buruk bagi warga dunia. Hingga kini, perang  melawan sang pagebluk belum berakhir. Obatnya belum ditemukan.  

Panik dan Putus Asa

Sebagaimana diberitakan di berbagai media, banyak peristiwa muncul di tengah-tengah kita yang menunjukkan kegagapan, kepanikan, dan keputusasaan menghadapi bencana besar ini. Ada tenaga medis yang tertular karena pasien tidak jujur ketika memeriksakan diri; ada jenazah perawat pasien corona yang ditolak di kampungnya sendiri;  ada pasien yang lari dari Rumah Sakit sehingga harus dijemput paksa oleh aparat ke rumahnya. Di sisi lain, sekian banyak orang kehilangan mata pencarian akibat situasi yang tak kunjung jelas ujungnya. Yang lebih tragis, seorang ibu dari Serang Banten, diberitakan meninggal kelaparan karena 2 hari tidak makan akibat  suaminya  kehilangan pekerjaan sebagai dampak serangan corona (RCTI, 21/4/2020).

Di dunia medsos dan grup-grup WA tidak kalah serunya. Ada yang berdebat seputar penyebab munculnya sang virus; ada yang sok bijaksana menenangkan kawan-kawan di grup lengkap dengan dalil dan kata-kata bijak;  ada pula yang sok meremehkan dan tidak percaya bahwa corona itu virus berbahaya dan menganggap bahwa protap penanganan pasien corona hanya pesanan WHO untuk kepentingan tertentu, tapi  dia sendiri ‘lari’ pulang dan ‘bersembunyi’ di  kampung halamannya. Betapa corona telah begitu dahsyat meneror kehidupan semua orang. 

Rahmat Allah Maha Luas

Salah seorang Nabi Allah, yakni Nabi Ayyûb disebut sebagai ‘sebaik-baik hamba’ oleh al-Qur’an atas kesabarannya menerima musibah (QS 38:44). Menurut tokoh mufassir al-Zamakhsharî dalam tafsirnya al-Kashshâf, Ayyûb ditimpa musibah berupa sakit hingga waktu lama, kurang lebih 17-18 tahun. Namun beberapa  tokoh mufassir lain seperti Ibnu Kathîr, al-Qurtubî dan Ibnu ‘Âshûr mengatakan bahwa kata al-durr yang disebutkan al-Qur’an menimpa Ayyûb (QS 21:83) menunjukkan derita yang beraneka ragam, baik berupa fisik, harta, maupun keluarga serta dalam masa yang panjang. Dalam penderitaannya yang panjang, Ayyûb tidak berputus asa. Ia bahkan hanya mengatakan ‘anni massaniya al-durr’. Kata al-massu menurut Ibnu ‘Âshûr, berarti ‘sentuhan yang ringan’. Oleh sebab itu, dalam pengaduannya, Ayyûb hanya menyebut sifat Allah yang paling menonjol yakni yang Maha Pemberi Rahmat. Akhirnya Allah melenyapkan segala penderitaanya dan menganugerahinya kebahagiaan kembali melebihi yang diterima sebelumnya. 

Nabi Allah yang lain, yakni Nabi Ya’qûb juga mengalami ‘musibah’ yang tak kalah pedihnya. Ia kehilangan puteranya—Yûsuf—dalam waktu panjang. Berikutnya, adik Yûsuf–Bunyamin– juga ‘hilang’ dari dekapannya. Kesedihan luar biasa yang dirasakan Ya’qûb, membuat matanya menjadi putih. Ia buta akibat kesedihannya (QS 12:84). Namun Ya’qûb tidak pernah putus asa dan terus berusaha. Ia percaya bahwa Allah akan ‘berpihak’ padanya. Tengoklah apa yang diucapkan Ya’qûb, “sesungguhnya aku hanya mengadukan duka dan deritaku kepada Allah (QS 12:86)”. Di sisi lain, sebagai bukti ketidakputusasaannya, diperintahkannya putra-putranya yang lain untuk terus mencari Yusuf dan adiknya, dengan satu pesan, “jangan berputus asa terhadap rahmat Allah, karena hanya orang-orang kafirlah yang berputus asa terhadap rahmat Allah (QS 12:87)”. Pada akhirnya, cahaya itu datang. Nabi Ya’qûb dipertemukan dengan kedua puteranya. Penderitaan itu berakhir.

Mengapa putus asa disebut kafir ? Putus asa terhadap rahmat Allah hanya terjadi jika seorang manusia memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak mampu menghadirkan kesempurnaan, atau tidak welas terhadap hamba-NYa. Seorang mukmin sejati, ketika menghadapi musibah dan bencana sebesar apapun tidak akan menghantarkannya berputus asa terhadap rahmat Allah. Demikian al-Razy mengatakan dalam Mafâtih al-Ghaib.

Kita tentu tidak berharap bahwa bencana corona ini akan berlangsung lama sebagaimana musibah yang dialami Nabi Ayyûb. Atau penantian panjang Nabi Ya’qûb. Namun dalam situasi yang tidak menentu dan tidak tahu kapan ujungnya ini, jangan sampai muncul bencana lain, yakni hilangnya sikap optimis kita. 

Terlepas apapun penyebab terjadinya bencana ini, kita percaya bahwa Allah akan mengucurkan rahmat-Nya. Pemimpin kita diberi kemampuan mengambil keputusan tepat. Para pakar mampu menemukan obatnya. Dan teror sang pagebluk akan berakhir. Bukankah rahmat Allah itu maha luas dan meliputi segala sesuatu, wa rahmati wasi’at kulla shai’(QS. 7:156) ?  Dalam tafsir al-Qurtubi disebutkan, konon, dalam menanggapi ayat itu, iblis berkata, ‘ana shai’un’ (saya juga ‘sesuatu’).  Kalau iblis saja percaya diri akan mendapat rahmat Allah, apalagi kita? Allah A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *